Eksistensialisme- “Orang Aneh”

Eksistensialisme adalah filsafat yang menggambarkan bagaimana manusia mempunyai kehendak yang bebas tanpa memikirkan mana yang benar maupun yang tidak benar. Individu yang menganut pahan eksistensialisme cenderung merasa bahwa kebenaran adalah sesuatu yang relatif, sehingga mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain karena mereka merasa bebas menentukan sesuatu yang menurut mereka benar. Orang yang menganut pendapat eksistensialisme berpendapat bahwa mereka mempunyai kebebasan dalam bertindak, selama orang lain tidak di ganggu kebebasannya. Penganut paham eksistensialisme tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, mereka cenderung berpikir bahwa hidup ini adalah hanya tentang diri sendiri, sehingga tidak ada istilah seperti Tuhan yang dapat membuat hidup lebih baik atau Tuhan yang mengontrol kehidupan.

Di dalam novel “Orang Aneh”, banyak aspek-aspek yang menunjukkan bahwa tokoh utama dalam cerita itu, yaitu Mersault, adalah orang yang menganut paham eksistensialisme. Hal ini didukung dengan banyak hal di dalam novel ini, terutama lewat perkataan, perbuatan, maupun jalan pikirannya. Dari awal novel ini, sudah mulai terlihat bahwa tindakan-tindakan Mersault kadang bisa dibilang tidak masuk akal, namun kenyataannya, Mersault merasa bahwa tindakannya itu wajar-wajar saja. Contohnya ketika ia membuntuti perempuan yang baru dijumpainya di toko, lalu setelah perempuan itu sudah hilang dia tidak ambil pusing dan pergi. Hal ini merupakan hal yang absurd, karena bagaimanapun juga perbuatannya bisa dibilang tidak biasa.

Eksistensialisme di dalam diri Mersault juga terlihat ketika ia menghadapi kematian ibunya. Dalam hal ini, terlihat dengan sangat jelas bahwa respon terhadap kematian ibunya menunjukkan bahwa Mersault mempunyai paham yang berbeda tentang kematian, sehingga seakan-akan ia bingung mengapa orang-orang membesar-besarkan tentang kematian ibunya, toh menurutnya kematian adalah hal yang wajar dan akan dialami semua orang. Maka dari itu, ditulis bahwa “Mersault tidak meneteskan air mata mengenai kematian ibunya.” Dari cara ia meminta ijin kepada atasannya untuk mengambil cuti karena kematian ibunya, Mersault juga berkata “Maaf, Anda tentu tahu bahwa hal itu bukan kesalahanku.” Kalimat ini merupakan kalimat yang sangat absurd, secara ketika seseorang tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia, respon yang di keluarkan bukanlah semacam ini. Dengan mengatakan ini, terlihat bahwa Mersault tidak mempersoalkan kematian ibunya, sehingga ia bukan merasakan dukacita melainkan seakan-akan ia berpikir “ya sudahlah, toh kematian ibu bukan kesalahanku.”. Hal ini sangatlah aneh jika dilihat oleh orang-orang biasanya, dan hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Mersault memang berbeda dengan orang-orang kebanyakan. 

Penganut eksistensialisme cenderung tidak peduli dengan kematian, karena menurut mereka, kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, sehingga tidak ada alasan untuk menakutinya, toh akan terjadi juga. “misalnya saja ia telah mati, maka kenangan terhadapnya tak punya arti lagi, tak ada kepentingan lagi dengan wanita yang sudah mati. Hal ini terasa wajar saja bagiku karena orang-orang juga akan melupakan aku bila aku mati. Malah sulit bagikuuntuk mengatakan bahwa hal itu sulit untuk diterima mentah-mentah.”. kalimat ini berarti bahwa ia tidak mengerti mengapa manusia tidak dapat menghadapi kematian secara langsung. Kepercayaan tentang kematian ini pun menjadi aspek yang menyebabkan Mersault membunuh orang Arab, tanpa rasa bersalah. “aku sendiri tidak begitu merasa menyesal atas apa yang telah kuperbuat.” Sehingga ia tidak merasa bersalah sudah membunuh seseorang, karena menurutnya kematian bukanlah suatu yang buruk. Di bagian terahir dari novel ini pun, ketika ia akan dihukum mati, Mersault berkata “dan mati, tak dapat dipungkiri, akan terjadi juga.”

Namun di dalam konten ini, terdapat pemikiran di dalam diri Mersault bahwa ia sebenarnya merasa takut untuk mati. Hal ini tidak dapat di hindari, karena walau bagaimanapun juga seseorang pasti mempunyai ketakutan jika mereka tahu bahwa mereka akan dihukum mati. Mersault tetap berpikir bahwa kematian itu adalah hal yang wajar, namun sebenarnya di dalam hatinya ia tetap gentar. “Tapi, kucoba menghibur diriku, walau bagaimanapun, sudah menjadi rahasia umum bahwa hidup itu bukanlah kehidupan yang pantas dijalani. Pemikiran yang timbul seperti itu juga tidak mampu menjadi penghibur bagiku, padalah seharusnyalah, seperti kuharapkan.” Walaupun Mersault terlihat menganut eksistensialisme, tetapi manusia tetaplah manusia, sehingga mereka tidak dapat menhindari rasa gelisah walaupun hanya sedikit, ketika mengetahui bahwa mereka akan menhadapi kematian dalam waktu yang singkat.

Penganut paham eksistensialisme tidak mempercayai Tuhan, bahkan mereka tidak peduli jika Tuhan itu ada ato tidak. Di dalam novel ini, bisa terlihat dengan jelas bahwa Mersault tidak merasaTuhan itu ada (“kujelaskan padanya bahwa aku tidak percaya pada Tuhan”), sehingga ketika pendeta datang ke selnya untuk membuat Mersault mengakui dosanya, ia tidak peduli dan hanya berpura-pura mengiyakan agar pendeta itu cepat selesai. “Seperti biasa, bila aku sudah tidak bisa tahan dan bosan terhadap suatu percakapan, aku lalu berpura-pura setuju.” Mersault juga mengatakan bahwa “tak ada sesuatu yang menggusarkan aku tentang hal itu, apakah aku percaya atau tidak, adalah pertenyaan yang tidak berarti bagiku.” Ketika pendeta bercerita bahwa banyak orang yang berada di posisi Mersault yang akhirnya bertobat, respon dari Mersault adalah “Memang, karena mereka mempunyai kebebasan untuk berbuat demikian. Namun demikian, aku tidak ingin ditolong dan aku tidak ingin menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang tidak menarik perhatianku.” Kalimat ini mencerminkan bagaimana pemikiran Mersault tentang Tuhan. Menurut kalimatnya, Mersaut tidak peduli apakah sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak, dan ia juga beranggapan bahwa itu adalah kebebasan ia sendiri, jikalau ia mau percaya atau tidak, mau di tolong atau tidak, karena menurutnya hal ini merupakan kebebasan setiap individu untuk mempercayainya atau tidak. Hal ini sangat menunjukkan cirri-ciri eksistensialisme, karena individu yang menganut pahan eksistensialisme cenderung merasa bahwa kebenaran adalah sesuatu yang relatif, sehingga mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain karena mereka merasa bebas menentukan sesuatu yang menurut mereka benar.

Dalam garis besar, perwatakan Mersault di dalam novel ini mencerminkan bahwa si tokoh utama ini menganut paham eksistensialisme. Hal ini di tunjukkan melalui perkataan, perbuatan maupun sikap Mersault menghadapi berbagai macam peristiwa, seperti kematian ibunya, dan juga ketika ia berada di sel penjara. Cara ia menghadapi hidup dan masalah, termasuk orang-orang yang menaruh prihatin kepadannya cenderung acuh. Ia tidak ambil pusing dengan apa yang telah diperbuat karena menurutnya, kebenaran adalah sesuatu yang relatif. Secara keseluruhan, novel ini menarik karena perwatakan sang tokoh sangatlah absurd, sehingga menciptakan cerita yang menarik dan tidak terduga melalui cara berpikir dan perbuatan Mersault.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: