Analisis Cerita “Yorrick”

Tema cerita ini adalah tentang kecemburuan. Di dalam cerita “Yorrick” ini, terdapat masalah terhadap teman kost si tokoh utama, pemilik tempat kost maupun wanita yang disukainya. Di cerpen ini hanya terdapat masalah-masalah kehidupan, tanpa ada penyelesaian di ahir cerita. Pada saat ia mendapat teman kost baru, Yorrick, ia merasa tersaingi karena Yorrick berhasil merebut semua perhatian dari orang-orang yang tinggal di wilayah kost nya maupun Catherine, wanita yang disukainya. Namun di akhir cerita, tidak di ceritakan bagaimana sang tokoh utama mengatasi kecemburuannya ketika ia tahu bahwa Catherine akan menikah dengan  Kenneth dan Caroline akan menikah dengan Yorrick, ia hanya berjanji untuk tidak datang ke pernikahannya saat mereka mengundang dia untuk datang. Tema di cerita ini tidak terlalu tersirat, karena menurut saya temanya cukup jelas adalah tentang kecemburuan dengan akhir yang tidak menentu.

Berbagai rangakaian kejadian di cerita ini terkait dengan kejadian lainnya, sehingga menghasilkan sebuah alur plot yang teratur. Di cerita ini, kebiasaan jorok Yorrick lah yang ahirnya memicu si tokoh utama untuk meludahi dan mengencingi pakaian Yorrick yang ia taruh sembarangan di kamar mandi, atau kebiasaan Yorrick menaruh makanan dengan sembarangan di lemari es si tokoh utama membuatnya untuk meludahi makanan dan minumannya. Dan juga kedekatan Yorrick dengan Catherine, ibu kost nya dan juga Kenneth dan Caroline membuat si tokoh utama berinisiatif untuk mengempeskan ban mobil mereka saat di parkir di depan rumah Catherine yang sedang berpesta. Rangkaian kejadian-kejadian di cerita ini menunjukkan bahwa ada sebab dan akibat di dalam perilaku si tokoh tokoh dalam bertindak.

Perwatakan tokoh utama di cerita ini membuat cerita semakin hidup, terutama melalui kelakuannya ketika ia melampiaskan kecemburuannya dengan berbuat sesuatu yang jahat ke Yorrick maupun orang-orang di sekitarnya dengan mengempeskan ban mobil maupun saat dia meludahi barang-barang Yorrick. Dengan menuliskan pikiran tokoh saat ia sedang emosi, saya bisa melihat bahwa tokoh utama ini gampang sekali menjadi cemburu buta hanya karena hal-hal yang sepele. Contohnya ketika telepon di rumahnya sering sekali bordering tetapi tujuan teleponnya hanya untuk Yorrick, dia merasa sebal dan tidak terima sehingga ia memutuskan untuk mencabut kabel teleponnya.

Penulis menggunakan sudut pandang orang pertama, jadi cerita ini serasa diceritakan oleh tokoh utama, karena pengarang menggunakan “saya” dalam menulis cerita ini. Dengan menggunakan sudut pandang orang pertama, pembaca menjadi lebih gampang mengerti akan karakter tokoh utama, karena pengarang menuliskan perasaannya dan apa yang dipikirkannya di dalam hati dengan detil.

Latar di dalam cerita ini bisa dibilang tidak terlalu menonjol, tetapi setelah saya baca ulang cerita ini, di paragraf pertama si pengarang sudah mulai mendeskripsikan rupa Jalan Grant yang menarik perhatian sang tokoh. Mula-mula saya tidak sadar bahwa latar inilah yang membawa si tokoh betah berjalan-jalan sambil menikmati pemandangan sekitar jalan ini dan ahirnya jatuh cinta pada seorang perempuan yang sering ia lihat sedang memperhatikannya dari loteng sebuah rumah tua , dan lambat laun wanita itu pun mencuri perhatian sang tokoh. Dan konflik utama di dalam cerita ini juga menyangkut Catherine, yang pertamanya disebabkan oleh kebiasaan si tokoh utama yang suka berjalan-jalan di sekitar jalan Grant ini.

Gaya bahasa yang dipakai pengarang cukup formal tetapi tetap mudah diikuti sehingga membuat pembaca tidak kesulitan untuk memahami alur ceritanya. Pengarang bisa dibilang tidak menggunakan majas-majas di dalam menulis cerita ini. Ia lebih cenderung mendeskripsikan sesuatu lewat perasaan sang tokoh, dengan cara yang sangat natural sehingga membuat pembaca merasa dapat masuk ke dalam pikiran si tokoh.

Dalam keseluruhan, cerita ini dapat di sebut cerpen, karena menurut Nyoman Tusthi Eddy, Bambang Sadono SY,  cerita bisa di bilang carpen kalau ia hanya melukiskan kejadian yang waktu berlangsung kejadiannya tidak lama. Dan juga tempat peristiwa tidak lebih dari empat dengan pelaku paling banyak lima orang, meskipun watak para pelaku tidak dilukiskan secara mendalam. Didukung dengan tema, plot, perwatakan, sudut pandang, latar dan gaya, cerpen ini menjadi lebih hidup dan membuat pembaca penasaran akan ahir cerita ini, walaupun pada ahirnya tetap tidak ada penyelesaian akan masalah-masalah sang tokoh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: