Eksistensialisme- “Orang Aneh”

January 25, 2010

Eksistensialisme adalah filsafat yang menggambarkan bagaimana manusia mempunyai kehendak yang bebas tanpa memikirkan mana yang benar maupun yang tidak benar. Individu yang menganut pahan eksistensialisme cenderung merasa bahwa kebenaran adalah sesuatu yang relatif, sehingga mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain karena mereka merasa bebas menentukan sesuatu yang menurut mereka benar. Orang yang menganut pendapat eksistensialisme berpendapat bahwa mereka mempunyai kebebasan dalam bertindak, selama orang lain tidak di ganggu kebebasannya. Penganut paham eksistensialisme tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, mereka cenderung berpikir bahwa hidup ini adalah hanya tentang diri sendiri, sehingga tidak ada istilah seperti Tuhan yang dapat membuat hidup lebih baik atau Tuhan yang mengontrol kehidupan.

Di dalam novel “Orang Aneh”, banyak aspek-aspek yang menunjukkan bahwa tokoh utama dalam cerita itu, yaitu Mersault, adalah orang yang menganut paham eksistensialisme. Hal ini didukung dengan banyak hal di dalam novel ini, terutama lewat perkataan, perbuatan, maupun jalan pikirannya. Dari awal novel ini, sudah mulai terlihat bahwa tindakan-tindakan Mersault kadang bisa dibilang tidak masuk akal, namun kenyataannya, Mersault merasa bahwa tindakannya itu wajar-wajar saja. Contohnya ketika ia membuntuti perempuan yang baru dijumpainya di toko, lalu setelah perempuan itu sudah hilang dia tidak ambil pusing dan pergi. Hal ini merupakan hal yang absurd, karena bagaimanapun juga perbuatannya bisa dibilang tidak biasa.

Eksistensialisme di dalam diri Mersault juga terlihat ketika ia menghadapi kematian ibunya. Dalam hal ini, terlihat dengan sangat jelas bahwa respon terhadap kematian ibunya menunjukkan bahwa Mersault mempunyai paham yang berbeda tentang kematian, sehingga seakan-akan ia bingung mengapa orang-orang membesar-besarkan tentang kematian ibunya, toh menurutnya kematian adalah hal yang wajar dan akan dialami semua orang. Maka dari itu, ditulis bahwa “Mersault tidak meneteskan air mata mengenai kematian ibunya.” Dari cara ia meminta ijin kepada atasannya untuk mengambil cuti karena kematian ibunya, Mersault juga berkata “Maaf, Anda tentu tahu bahwa hal itu bukan kesalahanku.” Kalimat ini merupakan kalimat yang sangat absurd, secara ketika seseorang tahu bahwa ibunya telah meninggal dunia, respon yang di keluarkan bukanlah semacam ini. Dengan mengatakan ini, terlihat bahwa Mersault tidak mempersoalkan kematian ibunya, sehingga ia bukan merasakan dukacita melainkan seakan-akan ia berpikir “ya sudahlah, toh kematian ibu bukan kesalahanku.”. Hal ini sangatlah aneh jika dilihat oleh orang-orang biasanya, dan hal ini menunjukkan bahwa pemikiran Mersault memang berbeda dengan orang-orang kebanyakan. 

Penganut eksistensialisme cenderung tidak peduli dengan kematian, karena menurut mereka, kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi, sehingga tidak ada alasan untuk menakutinya, toh akan terjadi juga. “misalnya saja ia telah mati, maka kenangan terhadapnya tak punya arti lagi, tak ada kepentingan lagi dengan wanita yang sudah mati. Hal ini terasa wajar saja bagiku karena orang-orang juga akan melupakan aku bila aku mati. Malah sulit bagikuuntuk mengatakan bahwa hal itu sulit untuk diterima mentah-mentah.”. kalimat ini berarti bahwa ia tidak mengerti mengapa manusia tidak dapat menghadapi kematian secara langsung. Kepercayaan tentang kematian ini pun menjadi aspek yang menyebabkan Mersault membunuh orang Arab, tanpa rasa bersalah. “aku sendiri tidak begitu merasa menyesal atas apa yang telah kuperbuat.” Sehingga ia tidak merasa bersalah sudah membunuh seseorang, karena menurutnya kematian bukanlah suatu yang buruk. Di bagian terahir dari novel ini pun, ketika ia akan dihukum mati, Mersault berkata “dan mati, tak dapat dipungkiri, akan terjadi juga.”

Namun di dalam konten ini, terdapat pemikiran di dalam diri Mersault bahwa ia sebenarnya merasa takut untuk mati. Hal ini tidak dapat di hindari, karena walau bagaimanapun juga seseorang pasti mempunyai ketakutan jika mereka tahu bahwa mereka akan dihukum mati. Mersault tetap berpikir bahwa kematian itu adalah hal yang wajar, namun sebenarnya di dalam hatinya ia tetap gentar. “Tapi, kucoba menghibur diriku, walau bagaimanapun, sudah menjadi rahasia umum bahwa hidup itu bukanlah kehidupan yang pantas dijalani. Pemikiran yang timbul seperti itu juga tidak mampu menjadi penghibur bagiku, padalah seharusnyalah, seperti kuharapkan.” Walaupun Mersault terlihat menganut eksistensialisme, tetapi manusia tetaplah manusia, sehingga mereka tidak dapat menhindari rasa gelisah walaupun hanya sedikit, ketika mengetahui bahwa mereka akan menhadapi kematian dalam waktu yang singkat.

Penganut paham eksistensialisme tidak mempercayai Tuhan, bahkan mereka tidak peduli jika Tuhan itu ada ato tidak. Di dalam novel ini, bisa terlihat dengan jelas bahwa Mersault tidak merasaTuhan itu ada (“kujelaskan padanya bahwa aku tidak percaya pada Tuhan”), sehingga ketika pendeta datang ke selnya untuk membuat Mersault mengakui dosanya, ia tidak peduli dan hanya berpura-pura mengiyakan agar pendeta itu cepat selesai. “Seperti biasa, bila aku sudah tidak bisa tahan dan bosan terhadap suatu percakapan, aku lalu berpura-pura setuju.” Mersault juga mengatakan bahwa “tak ada sesuatu yang menggusarkan aku tentang hal itu, apakah aku percaya atau tidak, adalah pertenyaan yang tidak berarti bagiku.” Ketika pendeta bercerita bahwa banyak orang yang berada di posisi Mersault yang akhirnya bertobat, respon dari Mersault adalah “Memang, karena mereka mempunyai kebebasan untuk berbuat demikian. Namun demikian, aku tidak ingin ditolong dan aku tidak ingin menghabiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang tidak menarik perhatianku.” Kalimat ini mencerminkan bagaimana pemikiran Mersault tentang Tuhan. Menurut kalimatnya, Mersaut tidak peduli apakah sebenarnya Tuhan itu ada atau tidak, dan ia juga beranggapan bahwa itu adalah kebebasan ia sendiri, jikalau ia mau percaya atau tidak, mau di tolong atau tidak, karena menurutnya hal ini merupakan kebebasan setiap individu untuk mempercayainya atau tidak. Hal ini sangat menunjukkan cirri-ciri eksistensialisme, karena individu yang menganut pahan eksistensialisme cenderung merasa bahwa kebenaran adalah sesuatu yang relatif, sehingga mereka tidak peduli dengan pendapat orang lain karena mereka merasa bebas menentukan sesuatu yang menurut mereka benar.

Dalam garis besar, perwatakan Mersault di dalam novel ini mencerminkan bahwa si tokoh utama ini menganut paham eksistensialisme. Hal ini di tunjukkan melalui perkataan, perbuatan maupun sikap Mersault menghadapi berbagai macam peristiwa, seperti kematian ibunya, dan juga ketika ia berada di sel penjara. Cara ia menghadapi hidup dan masalah, termasuk orang-orang yang menaruh prihatin kepadannya cenderung acuh. Ia tidak ambil pusing dengan apa yang telah diperbuat karena menurutnya, kebenaran adalah sesuatu yang relatif. Secara keseluruhan, novel ini menarik karena perwatakan sang tokoh sangatlah absurd, sehingga menciptakan cerita yang menarik dan tidak terduga melalui cara berpikir dan perbuatan Mersault.

Samuel Beckett

December 11, 2009

Samuel Beckett

Samuel BeckettSamuel Beckett was born on Good Friday, April 13, 1906, near Dublin, Ireland. Raised in a middle class, Protestant home, the son of a quantity surveyor and a nurse, he was sent off at the age of 14 to attend the same school which Oscar Wilde had attended. Looking back on his childhood, he once remarked, “I had little talent for happiness.”

Beckett was consistent in his loneliness. The unhappy boy soon grew into an unhappy young man, often so depressed that he stayed in bed until mid afternoon. He was difficult to engage in any lengthy conversation–it took hours and lots of drinks to warm him up–but the women could not resist him. The lonely young poet, however, would not allow anyone to penetrate his solitude. He once remarked, after rejecting advances from James Joyce’s daughter, that he was dead and had no feelings that were human.

In 1928, Samuel Beckett moved to Paris, and the city quickly won his heart. Shortly after he arrived, a mutual friend introduced him to James Joyce, and Beckett quickly became an apostle of the older writer. At the age of 23, he wrote an essay in defense of Joyce’s magnum opus against the public’s lazy demand for easy comprehensibility. A year later, he won his first literary prize–10 pounds for a poem entitled “Whoroscope” which dealt with the philosopher Descartes meditating on the subject of time and the transiency of life. After writing a study of Proust, however, Beckett came to the conclusion that habit and routine were the “cancer of time”, so he gave up his post at Trinity College and set out on a nomadic journey across Europe.

Beckett made his way through Ireland, France, England, and Germany, all the while writing poems and stories and doing odd jobs to get by. In the course of his journies, he no doubt came into contact with many tramps and wanderers, and these aquaintances would later translate into some of his finest characters. Whenever he happened to pass through Paris, he would call on Joyce, and they would have long visits, although it was rumored that they mostly sit in silence, both suffused with sadness.

Beckett finally settled down in Paris in 1937. Shortly thereafter, he was stabbed in the street by a man who had approached him asking for money. He would learn later, in the hospital, that he had a perforated lung. After his recovery, he went to visit his assailant in prison. When asked why he had attacked Beckett, the prisoner replied “Je ne sais pas, Monsieur”, a phrase hauntingly reminiscent of some of the lost and confused souls that would populate the writer’s later works.

During World War II, Beckett stayed in Paris–even after it had become occupied by the Germans. He joined the underground movement and fought for the resistance until 1942 when several members of his group were arrested and he was forced to flee with his French-born wife to the unoccupied zone. In 1945, after it had been liberated from the Germans, he returned to Paris and began his most prolific period as a writer. In the five years that followed, he wrote Eleutheria, Waiting for Godot, Endgame, the novels Malloy, Malone Dies, The Unnamable, and Mercier et Camier, two books of short stories, and a book of criticism.

Samuel Beckett’s first play, Eleutheria, mirrors his own search for freedom, revolving around a young man’s efforts to cut himself loose from his family and social obligations. His first real triumph, however, came on January 5, 1953, when Waiting for Godot premiered at the Théâtre de Babylone. In spite of some expectations to the contrary, the strange little play in which “nothing happens” became an instant success, running for four hundred performances at the Théâtre de Babylone and enjoying the critical praise of dramatists as diverse as Tennessee Williams, Jean Anouilh, Thornton Wilder, and William Saroyan who remarked, “It will make it easier for me and everyone else to write freely in the theatre.” Perhaps the most famous production of Waiting for Godot, however, took place in 1957 when a company of actors from the San Francisco Actor’s Workshop presented the play at the San Quentin penitentiary for an audience of over fourteen hundred convicts. Surprisingly, the production was a great success. The prisoners understood as well as Vladimir and Estragon that life means waiting, killing time and clinging to the hope that relief may be just around the corner. If not today, then perhaps tomorrow.

Beckett secured his position as a master dramatist on April 3, 1957 when his second masterpiece, Endgame, premiered (in French) at the Royal Court Theatre in London. Although English was his native language, all of Beckett’s major works were originally written in French–a curious phenomenon since Beckett’s mother tongue was the accepted international language of the twentieth century. Apparently, however, he wanted the discipline and economy of expression that an acquired language would force upon on him.

Beckett’s dramatic works do not rely on the traditional elements of drama. He trades in plot, characterization, and final solution, which had hitherto been the hallmarks of drama, for a series of concrete stage images. Language is useless, for he creates a mythical universe peopled by lonely creatures who struggle vainly to express the unexpressable. His characters exist in a terrible dreamlike vacuum, overcome by an overwhelming sense of bewilderment and grief, grotesquely attempting some form of communication, then crawling on, endlessly.

Beckett was the first of the absurdists to win international fame. His works have been translated into over twenty languages. In 1969 he was awarded the Nobel Prize for Literature. He continued to write until his death in 1989, but the task grew more and more difficult with each work until, in the end, he said that each word seemed to him “an unnecessary stain on silence and nothingness.”

source: http://www.imagi-nation.com/moonstruck/clsc7.htm

Franz Kafka

December 11, 2009

Kafka was born into a middle-class Jewish family in Prague, the capital of Bohemia. His father, Hermann Kafka (1852–1931), was described as a “huge, selfish, overbearing businessman”[3] and by Kafka himself as “a true Kafka in strength, health, appetite, loudness of voice, eloquence, self-satisfaction, worldly dominance, endurance, presence of mind, [and] knowledge of human nature”. Hermann was the fourth child of Jacob Kafka, a ritual slaughterer, and came to Prague from Osek, a Czech-speaking Jewish village near Písek in southern Bohemia. After working as a traveling sales representative, he established himself as an independent retailer of men’s and women’s fancy goods and accessories, employing up to 15 people and using a jackdaw (kavka in Czech) as his business logo. Kafka’s mother, Julie (1856—1934), was the daughter of Jakob Löwy, a prosperous brewer in Poděbrady, and was better educated than her husband.[4]

Franz was the eldest of six children.[5] He had two younger brothers: Georg and Heinrich, who died at the ages of fifteen months and six months, respectively, before Franz was seven; and three younger sisters, Gabriele (“Elli”) (1889–1941), Valerie (“Valli”) (1890–1942), and Ottilie (“Ottla”) (1891–1943). On business days, both parents were absent from the home. His mother helped to manage her husband’s business and worked in it as much as 12 hours a day. The children were largely reared by a series of governesses and servants. Franz’s relationship with his father was severely troubled as explained in the Letter to His Father in which he complained of being profoundly affected by father’s authoritative and demanding character.

Franz’s sisters were sent with their families to the Łódź Ghetto and died there or in concentration camps. Ottla was sent to the concentration camp at Theresienstadt and then on 7 October 1943 to the death camp at Auschwitz, where 1267 children and 51 guardians, including Ottla, were gassed to death on their arrival.[6]

source: http://en.wikipedia.org/wiki/Franz_Kafka

albert camus biography

December 11, 2009

Biography

Albert Camus (1913-1960) was a representative of non-metropolitan French literature. His origin in Algeria and his experiences there in the thirties were dominating influences in his thought and work. Of semi-proletarian parents, early attached to intellectual circles of strongly revolutionary tendencies, with a deep interest in philosophy (only chance prevented him from pursuing a university career in that field), he came to France at the age of twenty-five. The man and the times met: Camus joined the resistance movement during the occupation and after the liberation was a columnist for the newspaper Combat. But his journalistic activities had been chiefly a response to the demands of the time; in 1947 Camus retired from political journalism and, besides writing his fiction and essays, was very active in the theatre as producer and playwright (e.g., Caligula, 1944). He also adapted plays by Calderon, Lope de Vega, Dino Buzzati, and Faulkner’s Requiem for a Nun. His love for the theatre may be traced back to his membership in L’Equipe, an Algerian theatre group, whose “collective creation” Révolte dans les Asturies (1934) was banned for political reasons.

The essay Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus), 1942, expounds Camus’s notion of the absurd and of its acceptance with “the total absence of hope, which has nothing to do with despair, a continual refusal, which must not be confused with renouncement – and a conscious dissatisfaction”. Meursault, central character of L’Étranger (The Stranger), 1942, illustrates much of this essay: man as the nauseated victim of the absurd orthodoxy of habit, later – when the young killer faces execution – tempted by despair, hope, and salvation. Dr. Rieux of La Peste (The Plague), 1947, who tirelessly attends the plague-stricken citizens of Oran, enacts the revolt against a world of the absurd and of injustice, and confirms Camus’s words: “We refuse to despair of mankind. Without having the unreasonable ambition to save men, we still want to serve them”. Other well-known works of Camus are La Chute (The Fall), 1956, and L’Exil et le royaume (Exile and the Kingdom), 1957. His austere search for moral order found its aesthetic correlative in the classicism of his art. He was a stylist of great purity and intense concentration and rationality.

From Nobel Lectures, Literature 1901-1967, Editor Horst Frenz, Elsevier Publishing Company, Amsterdam, 1969

This autobiography/biography was written at the time of the award and first published in the book series Les Prix Nobel. It was later edited and republished in Nobel Lectures. To cite this document, always state the source as shown above.

Albert Camus died on January 4, 1960.

Copyright © The Nobel Foundation 1957

source: http://nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1957/camus-bio.html

Analisis novel Salah Pilih

November 9, 2009

Di dalam novel salah pilih, gaya bahasa adalah salah satu unsur yang paling menonjol di dalam unsur- unsur yang ada di dalam novel ini. Gaya bahasa di cerita ini bisa di bilang membingungkan, karena penulis menuliskan cerita ini dengan bahasa yang tidak terlalu dikenal oleh orang-orang jaman sekarang. Namun, gaya bahasa di novel ini membuat novel Salah Pilih menjadi menarik, karena di balik penulisan yang tidak biasa dan sukar di pahami, terdapat arti tentang budaya Padang dan latar belakang di jaman itu. Jaman di mana si penulis menuliskan novel ini merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi gaya bahasanya. Novel ini ditulis pada sekitar tahun 1928, yang merupakan jaman di saat masyarakat Indonesia sedang dalam penjajahan belanda. Aspek ini mempengaruhi gaya bahasa N.St. Iskandar, salah satunya dengan bahasa-bahasa belanda yang cukup banyak yang di selipkan di dalam novel ini. Hal ini juga mempengaruhi pemikiran para tokoh didalam novel ini yang masih terpaku pada budaya yang kental, sehingga pada pandangan mereka, menikah dengan seseorang satu suku adalah sesuatu yang terlarang. Karena novel ini dituliskan pada tahun 1928, kata-kata yang dipilih oleh pengarang juga banyak yang hanya dapat di mengerti oleh orang orang yang sudah berumur, karena rata-rata kata yang di pilihnya adalah kata-kata tua yang sudah sangat jarang di pergunakan di era sekarang.

Tema di dalam novel ini adalah tentang salah pilih, sama seperti judulnya. Di dalam cerita ini di ceritakan tentang masalah si tokoh utama ketika ia salah memilih perempuan untuk menjadi istrinya, yang akhirnya merambat ke masalah-masalah lainnya. Tema ini membangun cerita Salah Pilih dengan tersirat, karena di dalam novel ini, Asri sering kali membicarakan tentang kesalahannya memilih istri. Tingkah laku dan sifat tokoh juga mendukung tema ini. Dengan tingkah laku Asri yang terlihat tidak sayang terhadap istrinya dan sifat Saniah yang tidak berkenan, pembaca dapat merumuskan tema ini adalah tentang kesalahan seorang lelaki dalam memilih istri, yang tertipu pada tampak luar sang wanita namun sifatnya sangat buruk sehingga si tokoh utama pun menunjukkan dengan tingkah lakuanya bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar dengan memilih perempuan ini sebagai istrinya.

Di dalam novel ini, penulis menuliskan cerita dengan alur yang bisa di bilang cepat. Pada novel salah pilih, cerita di tulis langsung ke poin-poinnya, sehingga cerita menjadi lebih mudah di pahami, walaupun bahasanya sedikit susah di mengerti. Kejadian-kejadian di dalam cerita ini disusun dengan sangat teratur, karena si penulis memisahkan satu bagian ke bagian lainnya melalui bab-bab di buku ini. N. St. Iskandar menulis cerita ini dengan bertahap, namun jelas sehingga membentuk suatu cerita yang utuh. Ia menceritakan dari mulanya bagaimana Asri baru pulang ke desanya, lalu keinginan Ibunya agar Asri bisa lekas menikah dan cara-cara ia meminang si perempuan sampai ke perkawinan di tuliskan dengan detil, sehingga pembaca mengerti dengan jelas bagaimana satu bagian dari cerita bisa menyambung ke bagian lainnya dalam sebuah novel.

Penokohan di dalam cerita adalah sangat penting, karena melalui tokoh pembaca bisa mengetahui bagaimana watak setiap tokoh dan juga bagaimana tokoh-tokoh itu sendiri membangun cerita yang komplek. Di dalam novel Salah Pilih, bisa di bilang jaman pada waktu si pengarang menulis cerita ini mempengaruhi penokohan di dalam novel ini. Hal ini terlihat dari bagaimana tokoh Asnah, Ibunya Asri dan juga orang-orang desa mempunyai pandangan yang sangat kuat tentang adat dan budaya. Watak yang ada dalam tokoh mengambil banyak peranan dalam membuat konflik-konflik yang ada di dalam cerita ini, karena bagaimanapun juga pada mulanya Asnah tidak dapat walau hanya sedikit pun juga untuk memikirkan untuk menikah dengan Asri, karena adat dan pandangan para orang desa yang menentang perkawinan sesuku. Oleh sebab itu, Asri memilih perempuan lain yang dikiranya baik, karena walaupun Asnah sudah sangat di terima oleh Asri maupun keluarganya, mereka tidak dapat berpikir untuk menikahkan Asri dengan Asnah, karena itu akan menentang adat daerah mereka sendiri.

Secara garis besar, walaupun pembahasaan di dalam cerita ini agak sulit untuk dimengerti, tetapi alur cerita yang didukung oleh tokoh dan perwatakannya membuat cerita ini menarik dan tidak berbelit-belit. Latar belakang sang penulis saat ia menuliskan novel ini mengambil andil dalam keseluruhan cerita melalui budaya di jaman itu yang di anut oleh para tokoh dan perseteruan yang terbentuk akibat kuatnya budaya Minang pada saat itu.

Salah Pilih- Judul menggambarkan isi babnya?

October 27, 2009

5. Perbedaan perangai

Judul ini menggambarkan isi babnya karena di dalam judul ini di ceritakan tentang Saniah dan Rusiah, kakak beradik yang sifatnya bertolak belakang. Saniah sifatnya sewenang-wenang dan sombong, sedangkan Rusiah lebih berhati baik dan tidak bertindak sesuka hati.

6. Mengantar sirih

Judul ini menggambarkan isi babnya karena di dalam bab ini di ceritakan tentang adat orang Padang yang harus mengantar sirih selagi menemui calon istrinya

7. Ibu Mariah dan Asnah

Iya, karena di dalam bab ini di ceritakan tentang bagaimana Asnah di sindir dan di rendahkan oleh Saniah. Dan di saat itu ada Ibu Mariah jadi dia mengerti bagaimana perasaan Asnah di perlakukan demikian. Di bab ini juga di ceritakan sewaktu mereka berunding di waktu malam hari tentang perilaku calon istri Asri itu.

8. Dalam suasana bertunangan.

Judul ini menggambarkan isi babnya, karena di dalam bab ini diceritakan bagaimana suasananya saat bertunangan, sewaktu si lelaki ke rumah perempuan dan menghadiri pperjamuannya. Ia membawa teman-temannya. Di sini juga di bahas bagaimana perjamuan ini penting untuk berkenalan dengan keluarga perempuan dan juga untuk mengetahui kehidupan rumah tangga mereka. Di bab ini juga di ceritakan pada saat pihak perempuan tidak melayani pihak lelaki dan teman-temannya dengan baik.

9.Sesudah kawin

Judul ini menggambarkan isi babnya, karena di dalam bab ini dijelaskan bagaimana perilaku para tokoh setelah kawin. Di ceritakan juga tabiat istrinya yang baru kelihatan sesudah kawin, dan terlihat bahwa Asri terkejut dengan sifat istrinya yang dikiranya baik sebelumnya, dan baru keliahatan jeleknya setelah mereka kawin.

10. Menantu pilihan

Judul ini menggambarkan isi babnya, tetapi terdapat juga sindiran di dalam judul ini, karena di dalam bab ini di ceritakan adat Saniah yang kurang bagus dan terus menyalahkan Asri tentang adatnya. Ia pun menjelek-jelekkan Asnah di depan Asri. Berhubung dia adalah menantu pilihan, judul ini menyindir sifat Saniah, karena biasanya menantu pilihan adalah baik adanya, tetapi ia malah bersifat tidak baik.

11. Tak Mau duduk sehamparan

Judul ini menggambarkan isi babnya. Di bab ini di ceritakan bagaimana Saniah merasa tidak selevel untuk duduk makan bersama-sama keluarga Asri terutama Asnah dan Ibu Liah. Ia tidak mau duduk berdekatan dengan mereka karena ia merasa bahwa mereka hanyalah babu yang menumpang di rumah Asri

12. Pengaduan Anak dan penerimaan Ibu

Judul ini menggambarkan isi babnya, karena di dalam bab ini diceritakan Saniah datang kepada Ibunya tanpa sepengetahuan Asri maupun ibunya. Ia mengadu bagaimana Asri lebih memihak kepada Asnah daripada dirinya. Ia juga cerita bahwa ia tidak begitu disukai oleh penduduk desa itu karena sifatnya yang tidak menyenangkan. Ibu Saniah pun tetap membela anaknya dan menerima aduan anaknya. Ia bahkan mengusulkan untuk menggunakan tipu daya untuk mengenyahkan Asnah dari rumah Asri.

13. Sesal dan cedera

Bab ini menceritakan bagaimana Asri menyesal telah memilih Saniah untuk menjadi istrinya. Ia sebelumnya mengira bahwa perkawinan akan membawa suka di dalam hidupnya, tetapi perkawinannya malah telah membawa sesal dan dukacita. Asri juga sedih karena Asnah dan Saniah tidak bisa bergaul baik, yang sebenarnya adalah suatu yang di takutkannya sebelum ia kawin. Sampai ahirnya Asri terpaksa memberitahu Saniah dengan cara yang kurang baik tentang kelakuannya dan menyuruhnya untuk membuang tabiat-tabiat buruknya.

14. Petuah orang yang akan meninggal.

Judul ini menggambarkan isi babnya, karena di judul ini diceritakan sewaktu Ibu Mariah sudah sakit-sakitan dan hampir meninggal, ia berpatuah kepada Asri dan Asnah bahwa alangkah baiknya jika mereka dahulu bisa menikah. Walaupun mereka sesuku, tetapi ibunya berpendapat bahwa Asnah layak untuk Asri, dan dia menyesal telah mengawinkan Asri dengan Saniah.

Latihan Paper 2

October 15, 2009

b. Cerita pendek hanya dapat mengungkapkan satu masalah secara efektif karena terbatasnya ruang. Diskusikan pandangan ini dengan menggunakan karya yang sudah anda pelajari.

Cerita pendek hanya dapat mengungkapkan satu masalah secara efektif. Salah satu alasannya ialah karena cerpen mempunyai batas jumlah perkataan yang berkisar sekitar 500-30000 kata. Oleh sebab itu, pengarang hanya dapat melukiskan suatu masalah yang dapat di ulak secara mendalam. Jika pengarang memutuskan untuk menulis lebih dari satu masalah, masalah yang di ungkapkan akan menjadi tidak detail karena dengan batas kata-kata untuk menulis cerpen, ruang untuk mengembangkan ide-ide terbatas sehingga masalah hanya akan di bahas secara mengawang, tanpa didalami dengan baik seperti halnya cerpen-cerpen biasanya yang hanya mengungkap satu masalah. Contohnya di cerpen Orez, pengarang hanya mendalami masalah yang di hadapi oleh orang tuanya sewaktu Orez lahir maupun sewaktu ia masih ada di kandungan. Di cerpen Orez diceritakan bahwa sewaktu Hester mengandung, ia mengalami depresi yang cukup dalam karena ketidaksiapannya mempunyai anak. Di situ dijelaskan bahwa sewaktu Hester mengandung, Hester yang sudah tidak terlalu normal mencoba untuk menggugurkan Orez dengan cara-cara yang aneh. Dan setelah ia lahir juga hanya di ceritakan bagaimana perasaan ayah dan ibunya mempunyai anak yang kurang normal. Penjelasan hanya berkisar tentang ayah dan ibunya, dan tidak di ceritakan bagaimana Orez menghadapi dirinya yang berbeda dengan orang lain, lingkungan, ataupun masalah pergaulan.

Jumlah pelaku di dalam novel juga terbatas (paling banyak lima orang), sehingga konflik biasanya hanya berkisar antara tokoh-tokoh utamanya saja. Meskipun terkadang penulis menyisipkan masalah-masalah kecil tentang tokoh lainnya, tetapi masalah tidak di ungkapkan secara mendalam. Contohnya di cerita Yorrick, penulis menuliskan cuplikan masalah tokoh lainnya dengan singkat. Penulis menyebutkan tentang masalah kesehatan Ny Ellison, si pemilik rumah tetapi tidak dijelaskan detailnya. Karakter tokoh-tokoh lainnya di novel juga tidak di jelaskan secara mendalam karena focus pengarang lebih banyak terarah ke tokoh utama. Ketika perwatakan tokoh tidak dijelaskan secara detil, konflik tidak dapat tercipta diantara tokoh-tokoh itu.

Latar mempunyai hubungan yang cukup dalam dengan tema, karakter, suasana dan unsur lainnya yang terdapat di dalam cerpen, sehingga pengarang harus mampu menciptakan latar yang menyatu dengan karakter-karakternya di dalam cerpen. Menurut A Bakar Hamid, latar bertugas untuk memberi suasana yang baik kepada peristiwa di dalam cerita. Dengan adanya ruang, waktu dan juga suasana, peristiwa menjadi nyata. Dan di dalam cerpen, karena jumlah ruang terbatas, maka latar pun hanya bisa focus ke satu latar sehingga jika latar ada lebih dari satu, akan susah untuk latar untuk menyatu dengan tokoh-tokoh. Karena itu latar di dalam cerpen kebanyakan hanya ada satu di garis besar, yang menyebabkan masalah yang terdapat di cerpen yang dapat di jelaskan secara efektif hanya ada satu. Contohnya di dalam cerita keluarga M, latar yang di tuliskan oleh pengarang hanyalah di sekitar tempat tinggal si tokoh utama dan si anak-anak dari keluarga M, sehingga latar lebih menyatu dengan karakter-karakter para tokoh. Walaupun latarnya tidak hanya bertempat di suatu titik, tetapi tetap berhubungan dengan latar utama. Contohnya si tokoh utama di cerita keluarga M tinggal di suatu apartemen, tetapi masalah yang ia hadapi berawal di tempat parkir di apartemennya, jadi latar tetap terfokus ke apartemen tempat ia tinggal. Dengan latar yang konstan, si penulis menjadi lebih bisa mengaitkan latar ini dengan para tokoh yang menyebabkan walaupun hanya satu konflik yang di tuliskan, tetapi  lebih menyatu dengan latar sehingga masalah menjadi lebih menarik untuk dibaca.

Secara garis besar, batas kata di dalam cerpen , karakter dan juga latar menjadi faktor-faktor yang menyebabkan masalah di dalam cerpen hanya ada satu yang bisa di jelaskan secara efektif. Walaupun begitu, satu masalah yang di jelaskan secara mendalam, jika dituliskan dengan detil akan melahirkan sebuah konflik yang menyatu dengan karakter-karakter utamanya.

Biodata N. St. Iskandar

October 13, 2009
Nur Sutan Iskandar

Muhammad Nur atau yang lebih dikenal dengan nama Nur Sutan Iskandar lahir pada tanggal 3 November 1893 di Sungaibatang, Maninjau, Sumatera Barat. Adapun asal usul namanya menjadi Nur Sutan Iskandar bermula ketika ia menikahi Aminah. Oleh keluarga Aminah, ia diberi gelar Sutan Iskandar. Sejak itu, ia memakai gelar itu dipadukan dengan nama aslinya menjadi Nur Sutan Iskandar.

Dari perkawinannya dengan Aminah itu, Nur Sutan memperoleh lima anak:

1) Nursinah Supardo, lahir 5 Januari 1918, 2) Nursjiwan Iskandar, lahir 6 November 1921, 3) Nurma Zainal Abidin, lahir 24 Mei 1925, 4) Nurtinah Sudjarno lahir 7 Agustus 1928, dan 5) Nurbaity Iskandar, lahir 22 Maret 1933. Dua dari lima anaknya, yaitu Nursinah Supardo dan Nursjiwan Iskandar menuruni bakatnya, gemar dengan dunia karang mengarang.

Nur kecil menghabiskan masa kanak-kanaknya di tempat kelahirannya, Sungaibatang. Sungai Batang itu terletak di tepi Danau Maninjau. Keindahan kampungnya dan suasana kehidupan masyarakat di kampungnya itu, betul-betul diresapinya. Hal ini terlihat kemudian dari karya-karya yang dilahirkannya. Dallam Pengalaman Masa Kecil (1949), misalnya, Nur Sutan Iskandar dengan jelas bercerita tentang keindahan kampung halamannya dan suka duka masa kecilnya. Sementara itu, dalam Apa Dayaku karena Aku Perempuan (1923), Cinta yang Membawa Maut (1926), Salah Pilih (1928), dan Karena Menua (1932), ia banyak bercerita tentang kepincangan yang terjadi dalam masyarakatnya, khususnya yang berkaitan dengan adat istiadat.

Nur Sutan Iskandar menamatkan pendidikan sekolah rakyatnya pada tahun 1909. Setahun berikutnya, ia diangkat menjadi guru bantu di sekolah yang sama. Setelah itu, ia pindah ke kota Padang. Selanjutnya tahun 1919, ia meninggalkan kota Padang dan hijrah ke Jakarta. Di Jakarta, ia bekerja di Balai Pustaka mengoreksi naskah-naskah karangan yang masuk ke redaksi. Ia mendapat tugas itu dari Sutan Muhammad Zein, Pemimpin Balai Pustaka saat itu. Di Balai Pustaka itulah, ia banyak memperoleh pengalaman dan pengetahuan mengenai dunia karang mengarang dan juga mulai terasah bakatnya ke arah itu.

Ketika berkesempatan mengikuti Kongres Pemuda di Surabaya (1930-an), ia berkenalan dengan Dokter Sutomo, tokoh pendiri Budi Utomo. Oleh Dr. Sutomo, ia diajak berkeliling kota Surabaya. Hampir semua tempat di sana mereka kunjungi, tidak terkecuali tempat pelacuran. Bakat menulisnya yang sudah tumbuh, mulai memainkan peran. Pengalaman di tempat pelacuran itu, kemudian dituangkannya menjadi karangan yang diberi judul Neraka Dunia (1937).

Meskipun hanya berijazah sekolah dasar, Nur Sutan Iskandar dikenal sebagai orang yang haus akan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, sambil bekerja ia terus berusaha untuk menambah pengetahuannya, baik secara formal maupun nonformal. Pada tahun 1921, ia dinyatakan lulus dari Kleinambtenaar ‘pegawai kecil’ di Jakarta dan tahun 1924, ia juga mendapat ijazah dari Gemeentelijkburen Cursus ‘Kursus Pegawai Pamongpraja’ di Jakarta. Sementara itu, ia juga terus memperdalam kemampuan berbahasa Belandanya.

Berkat ketekunannya, ia diangkat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925—1942) dan Kepala Pengarang Balai Pustaka (1942—1945). Pada saat-saat itulah, kekereatifannya sebagai penulis sangat berkembang. Nur Sutan Iskandar termasuk penulis yang produktif. Tidak saja menulis karya asli, ia juga menulis karya saduran dan terjemahan. Hal itu dimungkinkan karena penguasaan bahasa asingnya cukup baik.

Tokoh Angkatan Balai Pustaka ini (seangkatan dengan Merari Siregar, Marah Rusli, dan Hamka) menghembuskan nafasnya yang terakhir di Jakarta, pada usia 82 tahun, tepatnya tanggal 28 November 1975.

Karya Nur Sutan Iskandar

Sebagai pengarang, Nur Sutan Iskandar tergolong produktif. Selama hidupnya, ia berhasil menulis puluhan buku, baik karya asli, saduran, maupun terjemahan. Berikut ini adalah daftar karya-karyanya yang sudah diterbitkan.

a) Karya Asli

(1) Apa Dayaku karena Aku Perempuan (Jakarta: Balai Pustaka,

1923)

(2) Cinta yang Membawa Maut (Jakarta: Balai Pustaka, 1926)

(3) Salah Pilih (Jakarta: Balai Pustaka, 1928)

(4) Abu Nawas (Jakarta: Balai Pustaka, 1929)

(5) Karena Mentua (Jakarta: Balai Pustaka, 1932)

(6) Tuba Dibalas dengan Susu (Jakarta: Balai Pustaka, 1933)

(7) Dewi Rimba (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)

(8) Hulubalang Raja (Jakarta: Balai Pustaka, 1934)

(9) Katak Hendak Jadi Lembu (Jakarta: Balai Pustaka, 1935)

(10) Neraka Dunia (Jakarta: Balai Pustaka, 1937)

(11) Cinta dan Kewajiban (Jakarta: Balai Pustaka, 1941)

(12) Jangir Bali (Jakarta: Balai Pustaka, 1942)

(13) Cinta Tanah Air (Jakarta: Balai Pustaka, 1944)

(14) Cobaan (Turun ke Desa) (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)

(15) Mutiara (Jakarta: Balai Pustaka, 1946)

(16) Pengalaman Masa Kecil (Jakarta: Balai Pustaka, 1949)

(17) Ujian Masa (Jakarta: JB Wolters, 1952, cetakan ulang)

(18) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas II

(Jakarta: JB Wolters, 1952)

(19) Megah Cerah: Bacaan untuk Murid Sekolah Rakyat Kelas III (Jakarta: JB Wolters, 1952)

(20) Peribahasa (Karya bersama dengan K. Sutan Pamuncak dan Aman Datuk Majoindo. Jakarta: JB Wolters, 1946)

(21) Sesalanm Kawin (t.t.)

b) Karya Saduran

(1) Si Bakhil (Moliere. Jakarta: JB Wolters, 1926)

(2) Pelik-pelik Pendidikan I–IV (Jan Ligthrta. Jakarta: JB

Wolters, 1952).

c. Karya Terjemahan

(1) Tiga Orang Panglima Perang (Alexander Dumas: Balal Pustaka, 1922)

(2) Dua Puluh Tahun Kemudian (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka, 1925)

(3) Graaf de Monte Cristo I–IV (Alexander Dumas. Jakarta: Balai Pustaka, 1925)

(4) Belut Kena Ranjau I–Il (Banonesse Orczy. Jakarta: JB Wolters, 1951)

(5) Anjing Setan (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka, 1928)

(6) Anak Perawan di Jalan Sunyi (A. Conan Doyle. Jakarta: Balai Pustaka, 1928)

(7) Gudang Intan Nabi Sulaeman (H. Rider Haggard. Jakarta: Balai Pustaka, 1929)

(8) Kasih Beramuk dalam Hati (Beatrice Harraden. Jakarta: Balai Pustaka, 1931)

(9) Memperebutkan Pusaka Lama (Edouard Kijzer. Jakarta: Balai Pustaka 1932) V

(10) Iman dan Pengasihan I–IV (H. Sienkiewicz. Jakarta: Balai Pustaka, 1933)

(11) Permainan Kasti (F.H.A. Claesen. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)

(12) Perjalanan Ahmad ke Eropa (N.K. Bieger. Jakarta: Balai Pustaka, 1940)

(13) Sayur-Sayuran Negeri Kita (J.J. Ochse. Jakarta: Balai Pustaka, 1942)

(14) Pablo (Lidow. Jakarta: Penerbit dan Balai Buku Indonesia, 1948)

(15) Asal Binatang (Giane Anguissola. Jakarta: t.p., 1948)

16) Si Buyung (S. Franke. Jakarta: t.p., 1949) V

17) Bersiap (C. Wilkeshuis. Jakarta: Noorhoffkolff, 1949)

(18) Pengajaran di Sweden (Jan Lighthart. Jakarta: JB Wolters,

(19) Sepanjang Garis Kehidupan (R. Kasimier. Jakarta: JB Wolters,1951)

(20) Medan Perdagangan (K. Gritter. Jakarta: JB Wolters, 1951)

(21) Edison Sripustaka (K. Gritter. Jakarta: Balai Pustaka, t.t.)

(22) Maw Volksalmanak (K. Gritter. Jakarta: Balai Pustaka, t.t.)

Sumber: http://pusatbahasa.diknas.go.id/laman/index.php?info=tokoh&infocmd=show&infoid=49&row=

Kembali ke daftar tokoh
  • A
  • Adat Istiadat Minangkabau

    October 13, 2009

    Kebudayaan Padang

    Kebanyakkan orang apabila diberitahu bahwa masyarakat Minang merupakan penganut Islam yang kuat merasa bingung karena anggapan mereka ialah sebuah masyarakat yang mengikuti sistem saka (matriarchal) akan sering berselisih dengan faham Islam yang lebih patriarchal. Namun sebenarnya, terdapat banyak persamaan di antara faham Islam dan Minangkabau (lebih lagi pada masa kini) sehingga menjadi sukar untuk orang Minang membedakan satu dari pada lainnya.

    Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat.

    Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori:

    1. Adat nan sabana adat
    2. Adat nan teradat
    3. Adat nan diadatkan
    4. Adat istiadat

    Secara kodrati perempuan dan laki-laki disisi adat Minangkabau tidak dapat disamakan. Sebab bila kodrati perempuan dan laki-laki disamakan bertentangan dengan ajaran “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (ABS,SBK). Namun kedudukan dan peran perempuan dapat diberdayakan seoptimal mungkin. Dalam adat Minang, kedudukan dan peranan perempuan itu sangat besar dan sangat diharapkan keberadaannya. Adat Minangkabau sejak dulu mendudukkan perempuan pada sisi yang besar. Peranan perempuan terlihat pada asas Sistem Kekerabatan Matrilinial (SKM) di Minangkabau. Nenek moyang orang Minang sudah beretetapan hati menghitung garis keterunannya berdasarkan garis keturunan ibu. SKM itu sulit dibantah karena SKM ini merupakan dalil yang sudah hidup, tumbuh dan berkembang di Minangkabau. Asas SKM itu mengandung tujuh ciri kekerabatan menurut ajaran adat Minangkabau, dimana ciri ciri matrilineal di Minangkabau adalah :

    1. Garis keturunan dihitung menurut garis keturunan ibu

    2. Suku anak menurut suku ibu Basuku kabakeh ibu Babangso kabakeh ayah Jauah mancari suku Dakek mancari ibu Tabang basitumpu Hinggok mancakam

    3. Pusako tinggi turun dari mamak ka kamanakan, pusako randah turun dari bapak kapado anak. Dalam hal ini terjadi “ganggam bauntuak” hak kuaso pada perempuan hak mamaliharo kapado laki laki. Dan hak menikmati secara bersama sepakat kaum, ayianyo nan buliah diminum, buah nan buliah dimakan, nan batang tatap tingga, kabau pai kakbuangan tingga, luluak dibawok sado nan lakek di badan.

    4. Gelar pusaka tinggi turun dari mamak kepada kemenakan laki laki.

    5. Matrilokal (suami kerumah istri)

    6. Exogami (kawin diluar suku

    7. Sehina semalu, seraso separesao.

    Sumber:

    http://tourism.padang.go.id/index.php?tourism=about-padang&id=10

    http://minang.wikia.com/wiki/Adat

    http://palantaminang.wordpress.com/

    “Orez”

    October 4, 2009

    Bab ini menceritakan tentang sepasang suami istri yang mempunyai anak cacat. Pertama-tama, sewaktu si tokoh utama memutuskan untuk meminang Hester, sudah terlihat tanda-tanda bahwa Hester mempunyai keanehan di dalam dirinya. Sewaktu tokoh utama menyatakan keinginannya untuk menikahi Hester, Hester kaget dan untuk menyamarkan kekagetannya, ia menggigit bibirnya dan mencekik lehernya sendiri sampai matanya mau keluar dan urat-urat wajahnya membesar. Setelah itu ia lari sekuat tenaga untuk menjauhi si tokoh utama, tapi setelah itu dia minta maaf dan berterimakasih atas keputusan si lelaki untuk menikahinya. Setelah beberapa waktu, Hester menunjukkan tanda-tanda bahwa ia hamil. Tetapi bayi pertama di kandungannya gugur, tetapi tanpa di duga ia mengandung lagi. Kali ini, kandungannya berbeda dengan sebelumnya. Dinding perut Hester lentur, tapi kuat dan bentuknya membuncit. Hester menyatakan bahwa ia ingin menggugurkan kandungannya, walaupun pertamanya di tentang oleh suaminya, tetapi ahirnya ia tidak tega juga dan menyetujui keputusan istrinya. Tetapi ternyata undang-undang di negaranya melarang aborsi, sehingga pada ahirnya Hester melakukan usaha-usahanya sendiri untuk menggugurkan kandungannya, seperti melompat-lompat ke sana kemari dengan perut bunting nya. Setelah itu dia juga meminta suaminya untuk memukul perutnya dengan raket baseball.

    Derita jasmani yang di alami Hester sangat kuat, sampai ahirnya lahirlah anak mereka yang diberi nama Orez. Ia memang cacat, berbeda dengan anak kebanyakan. Orez suka melompat-lompat, tingkahnya bisa di bilang seperti binatang. Sampai suatu hari sang ayah juga ikut kesal dan ketika dia berjalan-jalan dengan Orez, ia berniat membunuh Orez dengan pedang perninggalan ayah Hester. Tetapi ahirnya usahanya gagal, dan dia memutuskan untuk mengajak Orez ke sebuah tebing curang di sebelah sungai, karena ia baca di Koran bahwa sungai itu sudah memakan banyak jiwa yang tergelincir dari tebing dan tidak bisa bertahan dari ganasnya arus sungai. Ia pergi ke situ dengan harapan nanti Orez akan loncat-loncat jauh seperti biasa dan ahirnya menjadi korban seperti orang-orang lainnya. Tetapi di dalam perjalanan ia merenung bahwa Orez tidak pernah minta dilahirkan, dan dia juga tentunya tidak ingin menjadi cacat. Jadi Orez pun mempunyai hak untuk hidup, dicintai dan dilindungi, sama seperti dirinya. Ahirnya ia megurungkan niatnya dan balik ke apartemennya.

    Gaya bahasa si pengarang di cerita ini sangat detil, karena ia memakai banyak majas dalam mendeskripsikan perasaan, tingkah laku, maupun wujud seseorang. Contohnya ketika dia menulis, “saya merasa menjadi kuat, tubuh saya serasa menjadi raksasa berkepala seribu, jiwa saya perkasa bagaikan jiwa seorang pemimpin yang tidak pernah kalah dalam pemilihan umum” Dengan menggunakan majas simile, si pengarang berhasil membuat pembaca lebih mengerti perasaan si tokoh. Si tokoh terlihat sedang menanggung tanggung jawab yang sangat besar saat Hester, istrinya, mau melahirkan. Dia merasa sangat kuat bagaikan raksasa berkepala seribu, sehingga ia bisa melindungi Hester dan membawanya secepatnya ke dokter melahirkan. Si pengarang menuliskan “tubuh saya serasa menjadi raksasa berkepala seribu”, bukan “tubuh saya serasa menjadi raksasa” saja.  Hal itu menunjukkan bahwa pengarang ingin para pembaca untuk mengerti dengan benar bahwa tokoh utama ini merasa sangat kuat bukan hanya seperti raksasa, melainkan raksasa berkepala seribu yang jelasnya jauh lebih kuat dan lebih hebat daripada raksasa biasa.

    Pengarang juga menggunakan majas hiperbola saat mendeskripsikan Orez.  Seperti ketika ia menulis “setiap kali ia menangis, seluruh kota serasa mengalami gempa bumi hebat. Rupanya dia kelak akan mempunyai kekuatan luar biasa, lebih kuat daripada benteng keraton” Dengan menggunakan majas hiperbola ini, saya bisa membayangkan sebagaimana dahsyatnya teriakan Orez sampai pengarang menulis bahwa saat ia menangis, seluruh kota merasa mengalami gempa bumi hebat. Pengarang juga menulis “seluruh kota”, yang menurut saya ia mau memberitahu pembaca bahwa bukan di kota tempat tinggalnya saja teriakannya terdengar, tetapi kota-kota lain di luar kotanya juga ikut bergetar akibat kerasnya teriakan Orez. Saat ia menulis “kekuatan luar biasa, lebih kuat daripada benteng keraton”, si pengarang berhasil memberi gambaran pada saya bahwa kekuatan Orez sangat luar biasa, bahkan lebih kuat daripada benteng keraton yang kokoh itu. Contoh lainnya terdapat pada kalimat berikut, “bola itu terbang mencapai langit tingkat tujuh. Kalau posisi kakinya jelek, tubuh Orez sendirilah yang melayang ke atas, dan kepalanya menyundul bintang-bintang di langit.” Ungkapan ini sudah pasti tidak masuk akal, tetapi kalimat ini mendeskripsikan tingkah Orez dengan jelas. Walaupun penulis tidak mengatakan secara langsung bahwa Orez kuat, dengan memberitahukan bahwa bola yang di tending Orez sampai ke langit tingkat tujuh dan kepalanya bisa menyundul bintang di langit, itu sudah menunjukkan dengan jelas bahwa kekuatan Orez sanggup menembus lapisan-lapisan langit, yang berarti sangat kuat.

    Bahasa yang digunakan penulis mampu membuat pembaca membayangkan dan mengerti dengan jelas perasaan tokoh utama maupun gambaran tokoh Orez dalam cerita ini. Walaupun cerita ini sedikit aneh sewaktu dibaca, tetapi gaya bahasa dan cara si penulis menokohkan Orez sangat unik, sehingga mau tidak mau menarik pembaca untuk terus membaca cerita ini sampai selesai.