Analisis novel Salah Pilih

Di dalam novel salah pilih, gaya bahasa adalah salah satu unsur yang paling menonjol di dalam unsur- unsur yang ada di dalam novel ini. Gaya bahasa di cerita ini bisa di bilang membingungkan, karena penulis menuliskan cerita ini dengan bahasa yang tidak terlalu dikenal oleh orang-orang jaman sekarang. Namun, gaya bahasa di novel ini membuat novel Salah Pilih menjadi menarik, karena di balik penulisan yang tidak biasa dan sukar di pahami, terdapat arti tentang budaya Padang dan latar belakang di jaman itu. Jaman di mana si penulis menuliskan novel ini merupakan salah satu aspek yang mempengaruhi gaya bahasanya. Novel ini ditulis pada sekitar tahun 1928, yang merupakan jaman di saat masyarakat Indonesia sedang dalam penjajahan belanda. Aspek ini mempengaruhi gaya bahasa N.St. Iskandar, salah satunya dengan bahasa-bahasa belanda yang cukup banyak yang di selipkan di dalam novel ini. Hal ini juga mempengaruhi pemikiran para tokoh didalam novel ini yang masih terpaku pada budaya yang kental, sehingga pada pandangan mereka, menikah dengan seseorang satu suku adalah sesuatu yang terlarang. Karena novel ini dituliskan pada tahun 1928, kata-kata yang dipilih oleh pengarang juga banyak yang hanya dapat di mengerti oleh orang orang yang sudah berumur, karena rata-rata kata yang di pilihnya adalah kata-kata tua yang sudah sangat jarang di pergunakan di era sekarang.

Tema di dalam novel ini adalah tentang salah pilih, sama seperti judulnya. Di dalam cerita ini di ceritakan tentang masalah si tokoh utama ketika ia salah memilih perempuan untuk menjadi istrinya, yang akhirnya merambat ke masalah-masalah lainnya. Tema ini membangun cerita Salah Pilih dengan tersirat, karena di dalam novel ini, Asri sering kali membicarakan tentang kesalahannya memilih istri. Tingkah laku dan sifat tokoh juga mendukung tema ini. Dengan tingkah laku Asri yang terlihat tidak sayang terhadap istrinya dan sifat Saniah yang tidak berkenan, pembaca dapat merumuskan tema ini adalah tentang kesalahan seorang lelaki dalam memilih istri, yang tertipu pada tampak luar sang wanita namun sifatnya sangat buruk sehingga si tokoh utama pun menunjukkan dengan tingkah lakuanya bahwa ia telah melakukan kesalahan yang besar dengan memilih perempuan ini sebagai istrinya.

Di dalam novel ini, penulis menuliskan cerita dengan alur yang bisa di bilang cepat. Pada novel salah pilih, cerita di tulis langsung ke poin-poinnya, sehingga cerita menjadi lebih mudah di pahami, walaupun bahasanya sedikit susah di mengerti. Kejadian-kejadian di dalam cerita ini disusun dengan sangat teratur, karena si penulis memisahkan satu bagian ke bagian lainnya melalui bab-bab di buku ini. N. St. Iskandar menulis cerita ini dengan bertahap, namun jelas sehingga membentuk suatu cerita yang utuh. Ia menceritakan dari mulanya bagaimana Asri baru pulang ke desanya, lalu keinginan Ibunya agar Asri bisa lekas menikah dan cara-cara ia meminang si perempuan sampai ke perkawinan di tuliskan dengan detil, sehingga pembaca mengerti dengan jelas bagaimana satu bagian dari cerita bisa menyambung ke bagian lainnya dalam sebuah novel.

Penokohan di dalam cerita adalah sangat penting, karena melalui tokoh pembaca bisa mengetahui bagaimana watak setiap tokoh dan juga bagaimana tokoh-tokoh itu sendiri membangun cerita yang komplek. Di dalam novel Salah Pilih, bisa di bilang jaman pada waktu si pengarang menulis cerita ini mempengaruhi penokohan di dalam novel ini. Hal ini terlihat dari bagaimana tokoh Asnah, Ibunya Asri dan juga orang-orang desa mempunyai pandangan yang sangat kuat tentang adat dan budaya. Watak yang ada dalam tokoh mengambil banyak peranan dalam membuat konflik-konflik yang ada di dalam cerita ini, karena bagaimanapun juga pada mulanya Asnah tidak dapat walau hanya sedikit pun juga untuk memikirkan untuk menikah dengan Asri, karena adat dan pandangan para orang desa yang menentang perkawinan sesuku. Oleh sebab itu, Asri memilih perempuan lain yang dikiranya baik, karena walaupun Asnah sudah sangat di terima oleh Asri maupun keluarganya, mereka tidak dapat berpikir untuk menikahkan Asri dengan Asnah, karena itu akan menentang adat daerah mereka sendiri.

Secara garis besar, walaupun pembahasaan di dalam cerita ini agak sulit untuk dimengerti, tetapi alur cerita yang didukung oleh tokoh dan perwatakannya membuat cerita ini menarik dan tidak berbelit-belit. Latar belakang sang penulis saat ia menuliskan novel ini mengambil andil dalam keseluruhan cerita melalui budaya di jaman itu yang di anut oleh para tokoh dan perseteruan yang terbentuk akibat kuatnya budaya Minang pada saat itu.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: